Budaya digital

MENJELAJAHI situs dunia maya (“blogwalking”) bisa jadi sudah menjadi keseharian. Dari sekadar mendapatkan pertemanan, pencarian informasi, atau bahkan memberikan informasi bisa dilakukan. Tak mengherankan, jika populasi pengguna blog (“blogger”), khususnya di Indonesia, cukup menggembirakan.

Salah satu tokoh blog Indonesia, yang sering disebut sebagai “Bapak Blogger Indonesia” Enda Nasution, ketika dihubungi “PR” Minggu (4/12) mengatakan, jumlah pengguna blog setiap tahun meningkat dua kali lipat. Terutama pascapencanangan tanggal 27 Oktober sebagai Hari Blogger Nasional oleh Menkominfo Mohammad Nuh, membuat banyak orang semakin tertarik dengan penggunaan blog.

Pada 2007, diperkirakan terdapat sekitar 300.000 blogger di Indonesia. Sedangkan hingga akhir 2008, jumlah blogger yang terdeteksi sedikitnya 600.000 orang. “Makanya banyak prediksi, bahwa hingga akhir 2009, ada sejuta blogger di Indonesia. Dan sepertinya jumlah itu akan bisa tercapai,” kata Enda.

Peningkatan jumlah blogger, menurut Enda, terjadi seiring dengan kemudahan akses internet. Terlebih, tambahan kuantitas dari pengguna internet baru, yaitu kaum muda, turut memperbanyak angka pengguna blog. “Kaum muda yang mayoritas menjadi pegiat blog, karena mereka tumbuh dari lingkungan yang sedemikian akrab dengan dunia digital beserta device-nya,” ucap pria yang pernah menjadi finalis Clio Advertising Award (2002) dan pernah dinobatkan menjadi The Hottest Creative Person se-Asia oleh Campaign Brief Asia (2002 dan 2003) ini.

Tak heran, kaum muda yang kebanyakan tumbuh menjadi digital massive, aktif menjelajahi blogosphere (dunia blog). “Kaum muda menjadi kelas tersendiri yang menjadi produsen sekaligus konsumen dalam penggunaan blog. Tapi tak hanya kaum muda, aktivitas blog tidak mengenal pekerjaan, umur, dan batasan lain,” kata Enda.

Berdasarkan situs wikipedia, istilah weblog sendiri muncul pertama kali pada 1997 oleh Jorn Barger. Istilah itu digunakan oleh Barger untuk menyebut website yang berisi catatan-catatan harian. Blog pertama kemungkinan besar adalah halaman “What’s New” pada browser Mosaic yang dibuat oleh Marc Andersen pada tahun 1993. Mosaic sendiri adalah browser pertama sebelum kemunculan dari Internet Explorer.

Sedangkan istilah blog pertama kali diperkenalkan secara tidak sengaja oleh Peter Merholz yang memisahkan kata weblog menjadi “we blog” di dalam blog miliknya pada April 1999. Dalam bukunya “Panduan Ngeblog Dengan WordPress”, Budiarto mendifinisikan blog berasal dari dua kata, web log. Web dapat diartikan sebagai sebuah situs di internet, sedangkan log yaitu catatan pribadi/catatan harian.

Sementara itu, media blog pertama kali di populerkan oleh blogger.com, yang dimiliki oleh PyraLab yang kemudian diakuisisi raksasa internet Google.Com akhir 2002. Sejak saat itu, Google memperkaya blog dengan aplikasi-aplikasi open source. Kehadiran penyedia jasa blog gratis seperti blogger.com, blogsome.com, blogdrive.com, blogwise.com, wordpress.com, blogspot.com, multiply.com, dan lain-lain, meningkatkan jumlah blogger secara simultan. Dalam media blog, pengguna bisa berbagi content dengan pengguna lain. Dari sekadar urusan pribadi, bisnis, hingga pemikiran dan informasi, bisa didapatkan dalam blog.

Komunitas “blogger”

Membuat blog terbilang mudah. Tinggal memanfaatkan salah satu penyedia layanan blog gratis, dan mulai memproduksi blog dalam bentuk tulisan, foto, video, musik, dan sebagainya. Yang sulit adalah, mempertahankan semangat untuk tetap memproduksi content blog.

Mengenai content dalam blog, Enda mengaku bahwa konsistensi menjadi satu halangan utama. Ketika dihadapkan dengan kesibukan dan kehidupan dalam dunia “nyata”, seorang blogger yang biasanya harus berkonfrontasi dengan pikiran dan opini dalam blog yang ditulisnya, terpaksa mengurungkan niat.

“Di situlah letak pentingnya komunitas blogger. Untuk memelihara semangat mengelola blog, dan mengkonter kesulitan blogger,” ucap Enda. Inti dari blog, yang berupa penjalinan suatu hubungan timbal balik antara pembaca dan pembuat blog, akan semakin mudah dicapai ketika mereka bertemu. Istilah populernya, kopi darat.

“Dengan kopdar (kopi darat), pembaca dan pembuat blog jadi saling mengenal. Sehingga lebih enak jika berinteraksi di dunia maya,” kata Enda.

Di Bandung sendiri, sedikitnya ada dua komunitas blogger yang sering terdengar kiprahnya. Komunitas Bandung Blog Village (BBV) yang didirikan 2002 lalu, dan Bandung Kota Blogger (Batagor) yang didirikan pada 2008 lalu.

Namun, tak semua komunitas blogger membawa pengaruh positif. Yang harus diwaspadai, menurut Enda, ketika komunitas memiliki pertumbuhan anggota yang besar, namun tak diiringi oleh kebersamaan menyeluruh. “Akhirnya kan timbul geng-geng dalam satu komunitas, menimbulkan permusuhan dan merusak pertemanan dengan yang lain, makanya suka bubar dengan sendirinya,” kata Enda.

Dengan segala keunikannya, perkembangan blog terbukti mampu memberikan warna tersendiri dalam budaya digital. Content yang semakin beragam, jarak yang semakin tak terlihat antara mengonsumsi dan memproduksi blog, serta kemudahan yang bisa didapat, membuat masyarakat semakin menggandrungi media blog. Bagaimana dengan Anda? (Daniel Ariestha)***

 

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s