Kelompok dan identitas

Pengertian Kelompok

Kelompok adalah agregat sosial dimana anggota-anggotanya yang saling tergantung, dan setidak-tidaknya memiliki potensi untuk melakukan interaksi satu sama lain.

Kelompok adalah suatu kolektif yang terdiri atas berbagai organisme dimana eksistensi semua anggota sangat penting untuk memuaskan berbagai kebutuhan individu. Artinya, kelompok merupakan suatu alat untuk mendapatkan berbagai kebutuhan individu. Individu menjadi milik kelompok karena mereka mendapatkan berbagai kepuasan ssebaik mungkin melalui organisasi yang tidak dengan mudah mereka dapatkan melalui cara lainnya (Cartwright & Zander, 1971: 20).

Sedangkan menurut Wekley dan Yulk (1977) mengemukakan bahwa kelompok merupakan suatu kumpulan orang yang berinteraksi satu sama lain secara teratur dalam suatu periode tertentu, dan merasakan adanya ketergantungan diantara mereka dalam rangka mencapai satu atau lebih tujuan bersama.

Dari tiga pengertian di atas, maka dapat saya simpulkan bahwa pengertian kelompok tidak terlepas dari unsur-unsur berupa keberadaan dua orang atau lebih yang melakukan interaksi dan saling mempengaruhi untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Namun ini tidak berlaku bagi sekumpulan individu yang tidak memenuhi unsur-unsur di atas, maka belumlah dikatakan sebagai kelompok misalnya penonton sepakbola yang menjadi sekumpulan individu namu mereka tidak saling mengenal dan tidak melakukan interaksi.

Jenis dan fungsi Kelompok

Jenis-jenis Kelompok

Kelompok dapat dibedakan berdasarkan klasifikasinya. Sejalan dengan penelitian yang dilakukan dalam lingkungan organisasi atau perusahaan, maka ada jenis kelompok formal dan kelompok non-formal.

Kelompok formal adalah sub unit sah dari organisasi yang telah ditetapkan oleh anggaran dasar atau suatu ketetapan management. Jadi kelompok ini sengaja dibentuk untuk memenuhi tugas yang nyata guna mendukung tugas organisasi.

Kelompok non-formal adalah kelompok yang muncul sebagai upaya pemenuhan kebutuhan individu dengan mengembangkan tata hubungan dengan anggota lain dalam organisasi. Kelompok informal hanya dapat terbentuk apabila lokasi fisik anggota-anggotanya, sifat pekerjaan, dan jadwal kerja memungkinkan untuk terbentuknya kelompok. Oleh karena itu kelompok informal muncul dari kombinasi antara faktor-faktor formal dan kebutuhan manusia sebagai anggotanya.

Fungsi-fungsi Kelompok.

Pada dasarnya fungsi kelompok dibagi menjadi dua yaitu, fungsi organisasi formal dan fungsi kebutuhan individual. Fungsi kelompok formal sebagai sarana untuk mengerjakan tugas-tugas yang kompleks yang saling berkaitan dan terlalu sukar untuk dikerjakan oleh siapapun, sebagai sarana untuk mencetuskan gagasan-gagasan yang baru atau pemecahan masalah yang memerlukan kreativitas tertentu, dan sebagai wahana sosialisasi serta pelaksanaan keputusan yang rumit.

Fungsi kelompok individual yang didasarkan bahwa setiap individu memiliki beraneka macam kebutuhan, dan kelompok dapat memenuhi kebutuhan yang meliputi pemenuhan kebutuhan persahabatan, dukungan, dan kasih sayang, sebagai sarana untuk mengembangkan, meningkatkan, dan menegaskan rasa identitas dan memelihara harga diri, sebagai sarana untuk menguji kenyataan sosial melalui diskusi dengan orang lain, pengembangan perspektif, dan konsensus bersama yang dapat mengurangi keragu-raguan dalam lingkungan sosial sehingga dapat diambil sebuah keputusan.

Ciri-ciri utama kelompok

Penelitian mendalam mengenai sifat-sifat dan hasil-hasil interaksi dalam kehidupan  (empat) cirri kelompok yaitu :

  1. Terdapat dorongan (motif) yang sama pada individu-individu yang menyebabkan terjadinya interaksi di antaranya kea rah tujuan yang sama.
  2. terdapat akibat-akibat interaksi yang berlainan terhadap individu-individu yang satu dari yang lain berdasarkan reaksi-reaksi dan kecakapan-kecakapan-kecakapan yang berbeda-beda antara individu yang terlibat di dalamnya. Oleh karea itu, lambat laun mulai terbentuk pembagian tugas serta struktur tugas-tugas tertentu dalam usaha bersama untuk mencapai tujuan yang sama itu. Di sisi lain, terbentuk pula norma-norma yang kkhas Dalam interaksi kelompok kearah tujuannya sehinggga mulai terbentuk kelompok sosial dengan cirri-ciri yang khas.
  3. Pembentukan dan penegasan strukutr (organisasi) kelompok yang jelas dan terdiri atas peranan-peranan dan kedudukan hierarkis yang lambat laun berkembang dengan sendirinya dalam usaha pencapaian tujuan. Terjadi pembatasan yang jelas antara usaha-usaha dan orang yang termasuk ingroup serta usaha-usaha dan orang outgroup.
  4. Terjadinya penegasan dan peneguhan norma-norma pedoman tingkah laku anggota  kelompok yang mengatur interaksi dan kegiatan anggota kelompok dalam merealisasikan tujuan kelompok. Norma-norma dan pedoman tingkah laku ini sebagaiman juga struktur pembagian tugas anggotanya merupakan norma dan struktur yang khas bagi kelompoknya itu.

Dasar berperilaku, dapat saya gambarkan sebagai berikut :

Motif –> Sikap –> Perilaku

Saya mengasumsikan dengan mengambil contoh yaitu, ketika seseorang mempunyai motif untuk mengetahui tentang narkoba, ketika orang tersebut bersikap positif terhadap narkoba bahwa narkoba dapat menenangkan pikiran, dapat  membuatnya “fly”, menghilangkan semua masalah yang dihadapi maka ia akan cenderung berperilaku untuk menggunakan narkoba, sebaliknya ketika orang tersebut menyikapi narkoba dengan negatif maka orang tersebut cenderung untuk menghindari narkoba.

Latar Belakang

Anonimitas (Gustave le Bon : 1986) , yaitu kehancuran mekanisme kendali yang normal. Kehilangan kendali secara moral, tanpa sistem nilai dan aturan sosial sehingga individu tidak lagi memikul tanggung jawab secara pribadi. Muncul tindakan yang sifatnya ekstrem dan tidak rasional karena dorongan-dorongan untuk bersikap agresif, primitif, dan seksual yang bebas diungkapkan sehingga menimbulkan kekerasan dan tindakan tidak bermoral. Maka tanggung jawab dibebankan pada kelompok. Bila anonimitas keberadaan dalam suatu kelompok menyebabkan orang kehilangan kesan identitas pribadi mereka, kemungkinan besar akan timbul perilaku antisosial misalnya penjarahan barang-barang toko oleh sekelompok orang.

Deindividuasi (Diener : 1980), yaitu merupakan penggantian identitas pribadi oleh identitas kelompok. Mencakup atas hilangnya tanggung jawab pribadi dan meningkatnya kepekaan atas tindakan kelompok. Individu disini kurang merespon perilaku dan nilai-nilainya sendiri, namun lebih memusatkan diri pada kelompok dan situasi.  Disini saya dapat asumsikan bahwa tindakan mereka adalah bagian dari perilaku kelompok.

Peran Sosial

Peran adalah perilaku yang diharapkan dari seseorang berdasarkan status yang  melekat pada dirinya. Dalam sistem sosial seseorang yang menduduki status tertentu dan bertindak atau berperan  sesuai dengan status yang melekat pada dirinya, contoh sederhana misalnya dalam tim sepakbola, dimana ada manager, pelatih, official, serta pemain. Ketika tim tersebut bermain, maka masing-masing bagian memerankan peranannya, dimana seorang manager memegang status paling tinggi dalam managemen tim, serta pelatih sebagai mempunyai status yang paling tinggi dalam  menginstruksikan pemainnya dalam sebuah pertandingan. Contoh lain si A jika berada dikampus, ia berstatus sebagai mahasiswa, sedangkan dalam masyarakat, si A adalah anggota masyarakat.

Kekompakan

Ada beberapa alasan mengapa para anggota-anggota kelompok loyal pada kelompoknya serta kelompok tersebut dapat bertahan lama salah satunya adalah kekompakan yang mana mengacu pada kekuatan, baik itu positif maupun negatif, yang menyebabkan para anggota dalam suatu kelompok menetap dalam suatu kelompok (Festinger : 1950). Kekompakan merupakan karakteristik suatu kelompok sebagai suatu kesatuan yang tergantung pada tingkat keterikatan individual. Kekompakan kellompok juga dipengaruhi oleh faktor negatif yang menyebabkan para anggotanya enggan meninggalkan kelompok itu, meskipun tidak merasa puas (dalam hal ini terjadi avoidance-avoidance conflict).

Komunikasi

Dalam pengertian kelompok di atas, telah dijelaskan beberapa pengertian dari kelompok, yang mempunyai beberapa unsur, salah satunya yaitu interaksi. Dalam interaksi ini, ada pemberi, isi pesan, feedback, dan penerima pesan dalam proses penyampaian pesan tersebut, ketika si penerima pesan menerima pesan dari si pemilik pesan, dan memberikan feedback, maka terjadilah komunikasi. Sudah jelas dalam pelaksanaan pengambilan keputusan, dengar pendapat dalam suatu kelompok, adalah sebuah komunikasi dalam sebuah kelompok.

Jaringan komunikasi

Dalam sebuah  kelompok, setiap anggota bebas untuk berkomunikasi. Walaupun ini berlaku dalam kelompok diskusi, namun adapula kelompok yang membatasi dalam berkomunikasi. Penelitian menyelidiki efek dari berbagai hal yang disebut jaringan komunikasi. Penelitian yang dilakukan berupa pembentukan kelompok yang menyelesaikan beberapa masalah dan membatasi komunikasi antara kelompok. Ini dilakukan dengan menempatkan subjek dalam ruangan atau bilik yang terpisah dan hanya mengizinkan mereka berkomunikasi melalui pesan tertulis atau melalui pesan interkom. Saya mengambil contoh pada tim sepakbola, ketika beberapa orang mendiskusikan siapa yang berhak dan ditunjuk untuk melakukan tendangan bebas, mereka menggambarkan dengan jaringan komunikasi berputar. Jaringan komunikasi ini diklasifikasikan menjadi 4 (empat) yaitu pola melingkar, pola rantai, pola Y, dan pola cycle.

Persaingan Lawan Kerja

Dalam beberapa kelompok, orang berinteraksi secara koperatif. Mereka saling menolong satu sama lain, berbagai informasi, bekerja bersama untuk mendapatkan keuntungan bersama. Dalam kelompok lain, orang bersaing, mereka mengutamakan tujuan sendiri dan berusaha menyisihkan yang lain. Faktor yang penting adalah struktur ganjaran pada suatu situasi-cara pemberian ganjaran yang kompetitif muncul apabila keuntungan seseorang berarti kerugian orang lain. Misalnya, dalam pertandingan kita memang telah meraih kemenangan, namun kekalahan bagi orang lain. Dalam situasi lain, adapula struktur ganjaran yang koperatif. Dalam dunia sepakbola, kesebelasan harus bekerja sama agar dapat memenangkan pertandingan.

Faktor yang menentukan dalam kerja sama lawan persaingan.

Ada beberapa faktor yang menentukan apakah orang akan berinteraksi secara koperatif atau kompetitif. Penelitian eksperimental yang menggunakan permainan menunjukkan bahwa bila struktur ganjaran suatu situasi bersifat baur atau bermakna ganda, para mahasiswa sering memilih strategi kompetitif yang menimbulkan hambatan bagi mereka untuk memperoleh ganjaran maksimal.  Tetapi dalam situasi dimana struktur ganjaran lebih nyata dan lebih penting daripada permainan simulasi, ganjaran dapat meningkatkan kerja sama para mahasiswa yang dalam permainan truk berusaha “mengalahkan” rekannya mungkin menunjukkan perilaku yang sangat koperatif dalam keluarga mereka atau dengan teman sebenarnya dalam keadaan di mana  kerja sama diharapkan dan diberi ganjaran. Para peneliti telah mengidentifikasi beberapa faktor situasional yang mempengaruhi persainngan.

Kepemimpinan

Ada beberapa bentuk kepemimpinan yang timbul dalam kelompok. Sifat pokok dari kepemimpinan adalah pengaruh sosial. Pemimpin mempunyai pengaruh yang sangat besar dalam kelompok, baik dalam pelaksanaan pengambilan keputusan, sebagai penengah dalam berbagai permasalahan, baik internal kelompok maupun hubungan dengan kelompok lain.

Struktur kepemimpinan

Pada beberapa kelompok terdapat struktur sederhana, misalnya dalam tim sepakbola ada manager, pengnelola, pelatih, kepala, kapten, playmaker sebagai pengatur dan pembuat serangan, atau anggota tim yang tersedia menjadi juru bicara informal dalam tim tersebut.

Pemimpin dapat diklasifikasikan menjadi dua, yaitu pemimpin formal seperti pada perusahaan, sekolah, organisasi yang  resmi sedangkan  pemimpin informal dapat saya deskripsikan bila ada beberapa orang teman yang berkumpul kepemimpinannya itu bersifat informal, dalam hal ini orang yang paling banyak memberikan pendapat dan paling persuasif akan muncul sebagai pemimpin misalnya dalam kelompok belajar.

Jalur ke arah kepemimipinan dan jenis aktivitas kepemimpinan

Ada beberapa cara seseorang menjadi pemimpin, bahkan saat ini telah banyak dibuka training tentang leadership, baik lembaga pemerintah, swasta, maupun organisasi-organisasi dalam masyarakat yang mana dilatih sebagai estafet pemimpin sebelumnya. Dalam kehidupan kita, sangat banyak contoh yang dapat kita ambil, misalnya dalam kelompok belajar, ada beberapa orang yang paling aktif dalam memberi tanggapan, saran, maupun sikap yang persuasif sehingga secara tidak langsung ia tampil sebagai pemimpin informal.

Pemimpin kelompok harus memiliki dua macam aktivitas berupa kepemimpinan tugas (task leadership) yang berkaitan dengan usaha tujuan kelompok-mengusahakan agar tugas dalam kelompok dapat berjalan dengan baik serta kepemimpinan sosial (social leadership) yang terfokus pada aspek sosial dan emosional interaksi kelompok. Pemimpin sosial ini berusaha menjaga kelancaran kelompok, memperhatikan perasaan anggota kelompok, dan dapat mengatur stabilitas kelompok.

Pemimpin dapat dibagi menjadi 2 (dua) yaitu pemimpin Demokratis yang mana pengambilan keputusan berdasarkan kebijakan kelompok dan menetapkan keputusan mereka sendiri dengan bantuan pemimipin serta pemimpin Otoritarian yang mana keputusan tersebut dibuat oleh pemimpin. Namun pemimpin demokratis lebih mendorong anggotanya untuk lebih banyak mengambil inisiatif yang kreatif, sedangkan pemimpin otoritarian lebih banyak bergantung pada pemimpinnya, sehingga para anggotanya  tidak dapat bekerja sendiri.

Pemecahan masalah dan pengambilan keputusan oleh kelompok

Dalam pemecahan masalah dalam kelompok, melibatkan semua anggota kelompok, dan yang memegang peranan yang paling  tinggi adalah pemimpin kelompok yang mana ia harus dituntut untuk lebih kreatif dan inovatif serta mempertimbangkan sebaik mungkin keputusan yang telah ditetapkan. Namun, tidak semua kelompok pemecahan masalahnya ditentukan oleh pemimpin kelompok, tetapi sumbang saran oleh berbagai anggota kelompok juga salah satu usaha dalam pemecahan masalah dalam kelompok. Misalnya dalam penentuan slogan pada produk baru, maka seluruh anggota diinsruksikan untuk menuangkan ide-ide kreatifnya serta usulan-usulan sebanyak mungkin.

Polarisasi beberapa tahun yang lalu, para peneliti misalnya Kogan dan Wallach :  1967, Stoner : 1961) mengemukakan bahwa setelah ikut bagian dalam suatu diskusi kellompok yang membahas suatu masalah, anggota-anggota kelompok akan mendukung keputusan yang mengandung risiko  lebih besar daripada keputusan mereka sebelum ikut dalam diskusi tersebut. Ini dinamakan dengan penambahan risiko (risky shift), yang benar-benar menarik, sebagian karena tampak bertentangan dengan anggapan populer bahwa kelompok relatif konservatif dan teguh dalam pengambilan keputusan

KESIMPULAN

Kelompok adalah agregat sosial dimana anggota-anggotanya yang saling tergantung, dan setidak-tidaknya memiliki potensi untuk melakukan interaksi satu sama lain. Ciri-ciri utma kelompok adalah

1.      motif yang sama antara anggota kelompok,

2.      reaksi-reaksi dan kecakapan-kecakapan yang berlainan antara naggota kelompok,

3.      penegasan struktur kelompok, dan

4.      penegasan norma-norma kelompok.

Dalam setiap kelompok, biasanya beberapa orang berbicara lebih banyak daripada orang lain, dan orang yang berbicara banyak cenderung muncul sebagai pemimpin. Pembatasan-pembatasan dalam komunikasi, dapat menimbulkan berbagai jenis jaringan komunikasi.

Dalam persaingan dan kerja sama, pada negara-negara maju seperti Amerika, cenderung bersaing meskipun mereka memperoleh ganjaran eksternal yang lebih besar bila bekerja sama. Penelitian juga dilakukan melalui penelitian lintas budaya yang menemukan adanya persaingan yang lebih kuat diantara anak-anak yang berasal dari negara industri, kota, dan keluarga kelas menengah.

Pemimpin kelompok adalah orang yang memiliki pengaruh paling besar terhadap perilaku dan keyakinan kelompok. Seorang memimpin tugas mengarahkan diri ada tercapainya tujuan kelompok.  Seorang pemimpin sosial berusaha mempertahankan keselarasan dan semangat kelompok agar tetap tinggi. Orang yang menjadi pemimpin denderung memiliki kemampuan-kemampuan yang membantu kelompok mencapai tujuannya. Ada 2  (dua) jenis pemimpin yaitu pemimpin Demokratis dan pemimpin Otoritarian.
Identitas::

Identitas bagi kebanyakan orang adalah selembar kartu nama yang mengukuhkan keberadaan mereka dengan sebuah nama, profesi dan kedudukan. Memperhatikan khaos yang terjadi selama sepuluh tahun terakhir, saya merasa ada perlunya untuk mendalami makna identitas. Karena identitas ternyata adalah biang yang memporakporanda berbagai negara, memecahbelahkan bangsa-bangsa, dan memposisikan manusia yang paling tidak politis sekali pun di satu sudut ruang berseberangan dengan berbagai perbedaan yang berpotensi konflik.

Apa yang membedakan kita atas nama kepercayaan, suku, dan bangsa, sudah terjadi sejak kita dilahirkan. Tanpa kita sadari ketika kita dilahirkan sebuah predikat langsung melekat pada keberadaan kita. Nama kita mengikat kita pada satu keluarga, satu kepercayaan, satu komunitas dan satu bangsa.

Identitas adalah sebentang Mobius yang melilit. Di satu sisi, ia mengukuhkan kebersamaan satu kelompok, keselarasan visi dan ambisi, namun atas atas nama kemajuan, prestasi dan kebersamaan, ia juga mampu secara brutal menghancurkan pihak yang dinilai mengancam azas-azas yang mengukuhkan kelompoknya. Tindakan anarkis dianggap sah karena ia membela kedaulatan kelompok. Tak ayal lagi, inilah insting survival purba yang kita wariskan dari leluhur kita sejak zaman Neolitik.

Sebaliknya, kita bisa memaknakan identitas dengan parameter yang lebih luas. Identitas, menurut Amin Maalouf, sekaligus inklusif dan eksklusif. Sebagai contoh, sebagai warga Indonesia beretnis Cina, maka saya dianggap warga minoritas. Tetapi sebagai anak turunan Cina, saya termasuk golongan warga terbesar di dunia. Perbedaan perspektif ini tergantung dari sudut referensi mana kita meneropong kedudukan kita. Sebaliknya, sebagai anak turunan Cina, dilahirkan di Tebing Tinggi, Sumatera Utara, menulis tiga novel dalam bahasa Inggris, membesut sebuah film tentang seorang pegawai kecil di bagian arsip dan bermukim di kawasan Lebak Bulus, saya menjadi sangat unik, karena tidak ada manusia lain selain saya yang menyandang predikat seperti ini. Tetapi kalau kita meneliti ini lebih dalam, maka kita akan menyimpulkan bahwa individualitas ini sebenarnya tidak secara keseluruhan murni, karena ia juga bermuatan berbagai elemen eksklusif yang bertautan dengan berbagai manusia, lepas dari kepercayaan, suku maupun kebangsaan. Sebagai contoh, saya berbagi satu hobi membaca dengan berjuta-juta manusia lain. Saya juga punya kesamaan seperti mereka yang suka bakmi, tahu, ataupun kue putu atau dengan mereka yang suka lagu-lagu Jeff Buckley.

Perumpamaan di atas secara gamblang menunjukkan betapa fleksibel sebenarnya identitas itu. Dalam skala makro, keberadaan kita mau tidak mau bertautan dengan begitu banyak manusia dari latar yang berbeda-beda dan tidak terbatas oleh demarkasi lokasi ataupun bangsa. Ironisnya, secara individu pun kita tidak mungkin dikelompokkan dalam satu kelompok karena pada dasarnya kita semua sangat berbeda. Ini terbukti beberapa waktu yang lalu oleh penelitian proyek genome manusia, di mana ditegaskan bahwa DNA manusia adalah sebuah keajaiban dari ribuan permutasi yang sama sekali tidak mungkin direplikasi. DNA kita ibaratnya hasil dari sekali tekanan tombol mesin jackpot dengan ratusan ikon yang berbeda. Kemungkinan untuk memreplikasi susunan DNA yang sama, sama sekali tidak ada.

Ilmu pengetahuan yang tadinya kita harapkan sebagai bintang penyelamat untuk membebaskan kita dari ortodoksi identitas, ternyata malah membuat kita semakin terjerumus dalam jurang pemisah. Pengetahuan, menurut Michel Foucault, hanya bisa membangkitkan lebih banyak pengetahuan. Michel Foucault memberi contoh seperti ini: seorang dokter yang kena flu tahu bagaimana mengobati dirinya dengan memilih obat yang tepat, tapi untuk kesehatan jiwanya ia tidak mampu memberikan preskripsi untuk dirinya. Karena untuk mengobati jiwanya ia membutuhkan lebih dari obat, ia perlu melakukan pelatihan-pelatihan – tehkne tou biou — untuk mencapai satu titik konversi — metanoai. Tehkne tou biou ini bukan sebuah antidote, seperti antidote untuk flu, tetapi sebuah perjalanan spiritualitas yang perlu ditekuni dalam hidup masing-masing. Pengetahuan dalam hal ini tidak mampu banyak membantu, karena ia justru mengakibatkan kita terperangkap dalam sejarah, tradisi dan segala embel-embel kepurbaan yang semakin mengikat kita pada satu identitas. Ia tidak mendorong kita untuk lebih mendekat pada realitas kehidupan dalam arti sebenarnya.

Alain Badiou dalam bukunya Ethics mengupas apa yang disebutnya sebagai akronim usang. Seperti kata-kata Keadilan, Demokrasi, Cinta, dan dalam hal ini Identitas juga bisa kita masukkan dalam deretan akronim abstrak ini. Sebagai sebuah term kata Identitas seperti juga Keadilan tidak punya makna yang konkret. Karena ia hanya sebuah term abstrak. Badiou ingin menjelaskan kepada kita bahwa ketika sebuah kegiatan dibakukan menjadi sebuah simbol ia kehilangan makna aslinya. Ketika kita mengatakan Keadilan maka makna asli dari kata itu, yaitu berlaku adil, segera kehilangan makna aslinya. Kita tenggelam dalam sebuah semesta makna yang begitu luas sehingga keaslian makna itu sendiri menjadi kabur. Kita lupa bahwa Identitas berangkat dari kata kerja yang punya makna memperkenalkan diri, mengidentifikan diri orang lain, atau menyatukan diri dengan orang lain. Dengan kata lain, dengan merangkul kata identitas kita menjadi lupa melakukan hal-hal yang berlaku untuk makna itu.

Identitas juga bercermin pada Yang Lain (The Other). Ia tidak bisa lepas dari pengakuan/pengukuhan orang lain. Identitas manusia selama hidupnya dicerminkan oleh seperangkat opini orang lain. Identitas dalam hal ini terkandung kesemuan yang menjadi kenyataan ketika kita mengkonfirmasi predikat-predikat dari orang lain. Ini paradoks yang kita bawa dari lahir yang akan terus melekat kecuali kita melakukan sesuatu untuk membebaskan diri dari tirani penafsiran Yang Lain. Dari penelitian proyek genome manusia, kita diajarkan bahwa kita tidak mungkin bisa sama seperti orang lain, sekalipun kita berusaha keras. Keunikan setiap individu sekaligus adalah kekuatan diri dan kelemahannya. Kekuatan karena dengan memahami keunikan itu kita tidak tergoyahkan oleh penafsiran Yang Lain. Kelemahannya adalah ketika kita berupaya untuk mengukuhkan identitas itu.

Seperti jalan menuju kesejahteraan jiwa harus melewati tehkne tou biou, pengasahan subjektivitas, maka untuk menjangkau orang lain kita juga perlu bekerja keras. Langkah pertama adalah membebaskan diri dari identitas. Manusia bebas identitas tidak memandang perbatasan negara, perbedaan suku atau pun kepercayaan sebagai jurang pemisah. Karena manusia pada dasarnya terikat dalam kebersamaan yang tak terelakkan, yaitu sebagai kelompok manusia berakal sehat dengan nilai-nilai kebaikan hakiki, mengemban visi yang sama, yakni dunia yang lestari dan damai. Dunia tanpa perbatasan dan identitas memungkinkan manusia untuk berpadu dalam satu komunitas dunia, bahu membahu menyelesaikan persoalan satu kasus demi satu kasus, tidak saling menyalip demi kepentingan bangsa, suku mau pun kepercayaan masing-masing. Alain Badiou menyimpulkan dengan elegan, “Satu bertaut dalam Dua. Kebersamaan berada dalam pergelutan perbedaan.” Ungkapan ini mengingatkan kita bahwa yang perlu kita lakukan bukan menyatu dengan orang banyak tetapi berusaha keras untuk mengembangkan simpati dan empati pada orang lain tanpa kekalutan historis, suku, maupun kepercayaan. Dari satu individu ke individu yang lain. Tanpa baliho yang meneriakkan slogan kebesaran ini dan itu.

Imajinasi juga sangat berperan dalam pendekatan kita pada Yang Lain. Dalam novelnya Identity, Milan Kundera memberi sebuah contoh bagaimana paras seseorang yang tak dikenal di sebuah kafe meninggalkan impresi yang begitu dalam pada tokoh utama novel sehingga ia berkembang dan menjadi seorang karakter yang terasa begitu akrab, seperti seseorang yang sudah dikenalnya selama bertahun-tahun. Melalui imajinasi, simpati dan empati kita akan terpicu, terlepas dari belenggu pradugaan dan keterbatasan identitas sehingga kita bisa bebas melebur pada Yang Lain.

 

 

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s