Masyarakat yang Insentif untuk Inovasi Berdampak Pada Kegiatan Ekonomi Nasional

Di awal abad 20, Joseph Schumpeter seorang ekonom Austria yang mengkaji masalah inovasi, sudah mengidentifikasi kunci kesuksesan ekonomi kapitalis yang sangat penting yaitu adanya inovasiyang muncul dari dalam perusahaan, yang dia perkenalkan dengan istilah creative destruction. Beliau juga meyakini bahwa proses evolusi kapitalis bukan hanya sekedar disebabkan oleh ekonomi yang berjalan karena lingkungan sosial dan alam yang berubah, juga bukan sekedar disebabkan pertambahan populasi manusia dan modal ataupun sistem moneter. Hal-hal tersebut memang suatu faktor yang penting yang memberikan pengaruh tapi bukan penggerak utama evolusi kapitalis.Penggerak utama yang menciptakan dan menjaga mesin kapitalis tetap bergerak adalah adanya produk baru, metode produksi baru, market barudan bentuk-bentuk baru organisasi industri yang menciptakan industri.

Beberapa data dan fakta menunjukkan negara-negaradi dunia yang unggul dalam persaingan ekonomi adalah negara-negara atau entitas bisnis yang berhasil menumbuhkan inovasi menjadi suatu budaya dan berhasil membawa kegiatan inovasi ke pasar sehingga berdampak pada pembangunan ekonomi.Ada korelasi positif antara pencapaian ekonomi, keunggulan bersaing industri berbasis inovasi dan jumlah paten sebagai indikator kemajuan industri berbasis inovasi. Kalau kita melihat indikator lain yang menunjukkan kekuatan industri yaitu dana riset atau jumlah paper ilmiah sebagai hasil adanya kegiatan riset, maka akan menunjukkan hal yang sama.

Beberapa negara maju yang secara tradisi pada beberapa dekade sebelumnya memang masuk di jajaran 10 besar. Akan tetapi pada tahun-tahun terakhir terlihat mulai muncul negara-negara yang pada kurun dekade tahun 60-70an dikenal sebagai negara sedang berkembang seperti Cina, India, Brasil dan Korea Selatan (sama seperti Indonesia), tapi pada saat ininegara-negara tersebut mulai menyeruak masuk dalam jajaran negara-negara terkemuka di dunia yang memiliki pencapaian tinggi pada pembangunan ekonomi dan hal tersebut ternyata ada hubungan dengan kinerja pengembangan inovasinya, terutama Cina, Korea Selatan dan India.

Pertanyaan yang muncul adalah bagaimana menumbuhkan inovasi dan membuat inovasi memberi dampak positif pada kegiatan ekonomi nasional.

 

SISTEM INOVASI

Kreativitas adalah kemampuan untuk melahirkan suatu ide, sedangkan perwujudan ide baru tersebut disebut dengan invensi atau kreasi. Ide baru yang diwujudkan mungkin baru berupa konsep atau mungkin sudah berupa produk yang berfungsi akan tetapi semuanya masih berdasar pada inventor’s perspective dan belum mempertimbangkan user atau market’s perspectiveagar memberi manfaat atau menciptakan nilai tidak hanya bagi creator/ inventor tapi juga buat user atau market. Oleh karena itu inovasi diartikan sebagai suatu cara untuk menterjemahkan atau membawa idekepada penerapan yang membawa manfaat atau menciptakan nilai (value creation)baik untuk pengguna maupun creator/inventor.Value creation dapat diciptakan dari produk dan proses yang baru, strategi introduksi yang baru atau penciptaan organisasi yang baru.

Tahapan kegiatan inovasi dimulai dari tahap pembentukan ide untuk menjawab suatu masalah.Setelah ide tersebut diwujudkan dalam bentuk konsep-konsep, model dan prototipe, makabaru dapat diuji secara sains dan teknologi. Model dan prototipe pada umumnya sudah diuji secara ilmiah-teknologi, akan tetapi masih banyak pertanyaan yang belum bisa dijawab seperti konsistensi kinerja, biaya produksi dan investasi, harga yang bisa diterima konsumen, kesesuaian dengan selera konsumen, kemampuan kompetisi dengan kompetitor dll yang bersifat bukan hanya teknis tapi juga ekonomi/bisnis. Oleh karena itu sebelum masuk kepada tahap komersial murni,diperlukan fase antara, yaitu scaling up terbatas dalam bentuk produksi skala terbatas (pilot plan/product)untuk menguji sistem produksi agar menghasilkan produk dengan kualtas yang konsisten dan dilakukan trial marketing untuk melihat feed back dari pasar. Dari tahap ini diharapkan dapat dilakukan perencanaan usaha dan perhitungan tekno-ekonomi untuk menindak lanjuti menjadi skala komersial penuh dan siap launching ke pasar, sebagaimana dikemukakan oleh Robert Johnson (1966).

Kegiatan inovasi melibatkan banyak pihak yang berkepentingan yang masing-memiliki tugas dan fungsi serta interestnya sendiri-sendiri.Inti konsep sistem inovasi nasional adalah jejaring (network), yaituagar masing-masing pihak berfungsi sebagaimana seharusnya dan agar tidak terjadi tabrakaninterest yang saling melemahkan, tetapi menghasilkan sinergi.Secara umum jejaring merupakan pemetaan dari interaksi aktor-aktor lembaga serta variabel lainnya sehingga membentuk pola jejaring tertentu.Jejaring tersebut sebagai hubungan interaksi antar aktor yang terdiri dari aktor utama dan pendukung, serta faktor-faktor determinan yang mempengaruhi hubungan tersebut.  Interaksi antar aktor dalam lembaga  dapat bermacam-macam, baik itu technical, commercial,legal, sosial, maupun finansial.

Aktor utama dari sistem inovasi nasional adalah pelaku riset dan pengembangan yang melahirkan invensi seperti individu/kelompok kreatif, perguruan tinggi, organisasi litbangdan entrepreneur/industri/entitas usaha yang melakukan off taking atau mengambil alih invensi dan membawanya pada kegiatan ekonomi. Aktor pendukung terdiri dari pemerintah (nasional, regional, dan lokal), lembaga atau pasar financial/ventura (pendanaan), pengguna (end user), bridging institution, yaituorganisasi yang berperan sebagai ‘intermediaries’ untuk mempromosikan inovasi/invensi dan perencanaan usaha,seperti lembaga pengelola inovasi/HKI/paten dan business development service (BDS), maupun organisasi lainnyayang memudahkan inovasi dan invensi diimplementasikan sepertikantor paten, lembaga standarisasi dan sertifikasi dan lain-lain. Sedangkan faktor-faktor determinan adalah lingkungan yaitu terdiri dari struktur dan kebijakanpendidikan, ekonomi dan industri, persaingan usaha, hukum dan kondisi sosial budaya serta infrastruktur. (Syahrul Aiman, Manaek Mamora dkk, 2005)

Pada tahap idea and invention generation, maka aktor utama yaitu perguruan tinggi, kelompok kreatif dan litbang yang melakukan kegiatan pengembangan ide dan invensi, sedangkan kelompok pendukung yaitu pemerintah terutama dalam hal tugasnya menyediakan pendidikan untuk mencerdaskan masyarakat sehingga muncul suatu massa atau kelompok masyarakat berpengetahuan dengan jumlah yang mencukupi, yang memiliki potensi untuk melahirkan ide-ide solusi baru untuk menjawab kebutuhan masyarakat dan dana riset dasar untuk melahirkan invensi. Sedangkan aktor pendukung lain yang berperan adalah bridging institution yang bertugas mengelola hak kekayaan intelektual termasuk mendapatkan perlindungannya. Pada tahap invention atau riset dasar ini, kekayaan intelektual yang bersifat intangible dapat disekuritisasi menjadi asset tangible berupa hak kekayaan intelektual dan dapat ditranfer atau dikerjasamakan dengan pihakindustri atau entitas usaha dalam bentuk lisensi, joint venture usaha baru atau dijual.Selain itu aktor pendukung lain yang cukup penting adalah kantor HKI/paten pemerintah yang bertugas melakukan administrasi pemberian perlindungan HKI.

Sedangkan faktor determinan pada tahap idea generation atau riset dasar ide, diantaranya adalah kebijakan dan infrastruktur yang mendukung pendidikan dan riset, seperti sekolah,perguruan tinggi yang bermutu, yang terjangkau masyarakat, dan mampu menumbuhkan budaya kreatif,sistem informasi untuk penyebaran pengetahun yang handal, kebijakan pembinaan terhadap lembaga pengelola HKI yang ada sehingga memiliki kemampuan untuk pengelolaan HKI dankebijakan proses mendapatkan perlindunganHKI dan paten yang efisien, baik waktu dan biaya serta kredibel.

Pada tahap inovasi maka pihak-pihak yang terlibat lebih luas mengingat tingkat kompleksitas yang jauh lebih tinggi dibandingkan pada tahap sebelumnya.Aktor utama yang berperan pada tahap inovasi adalah inventor, perguruan tinggi, litbang sebagai penghasil invensi dan industry/entitas usaha sebagai pihak yang membawa invensi kepada kegiatan usaha. Sedangkan aktor pendukung adalah pemerintah, lembaga keuangan, bridging institutionyang memiliki unit inkubasi industri, manajemen HKI dan layanan pengembangan usaha (business development service), institusi keuangan seperti lembaga venture capital, perbankan dan pasar modal serta lembaga standarisasi-sertifikasi.

Peran pemerintah pada tahap inovasi ini adalah menstimulasi pihak industry/entitas usaha untuk tergerak menyambut hasil-hasil invensi yang telah dihasilkan, seperti dalam bentuk penyediaan dana pendamping atau matching funddalam skema public-private partnershipuntuk menurunkan resiko pihak industri akibat kegagalan adopsi invensi, misalnya untuk pengembangan produk/teknologi atau dana-dana hibah untuk entrepreneur baru yang memulai mendirikan start-up company. Peranan bridging institution adalah mengelola HKI, promosi, melakukan transfer invensi baik dalam bentuk lisensi atau start up companydealing dengan industry/pengguna, menumbuhkan dan memfasilitasi entrepreneur-entrepreneur baru sebagai aktor yang membawa invensi ke komersialisasi. Peran lembaga keuangan sangat penting, terutama lembaga keuangan pra perbankan seperti venture capitalpada tahap pengembanganprototipe dan trial production/trial marketing untuk mengemas invensi sebelum ditawarkan kepada investor/industri. Jika usaha berbasis inovasi sudah jalan aktivitas usahanya, maka pihak perbankan dan pasar modal diperlukan agar entitas usaha dapat tumbuh dengan cepat.

Sedangkan faktor determinan pada tahap inovasi diantaranya adalah kebijakan pengadaan barang dan jasa oleh pemerintah yang mendorong pemanfaatan produk inovasi dalam negeri, produk perpajakan yang dapat mendorong tumbuhnya industri berbasis invensi, penegakan HKI jika terjadi pelanggaran HKI terhadap produk inovasi, birokrasi perijinan usaha dan investasi yang efisien dll.

 

PERMASALAHAN

Membawa suatu ide kepada pemanfaatan yang berkelanjutan dalam kegiatan ekonomi, merupakan jalan panjang yang tidak mudah untuk dilalui. Pada dasarnya proses inovasi atau menciptakan kegiatan ekonomi berbasis inovasi merupakan hal yang lebih komplek dibandingkan kegiatan ekonomi yang lain, karena secara nature sendiri ada tahap dalam proses inovasi yang mengandung jebakan, yang berpotensi menggagalkan kegiatan inovasi. Tahapan tersebut sering disebut death valley,yaitu tahapan yang sering kali gagal untuk dilalui ketika akan membawa invensi/inovasi ke pasar.

Hal utama yang menyebabkan terjadinya death valley adalah invensi yang dibawa ke pasar belum matang. Death valley berada di tengah proses, karena dia berada diantara dua proses yang sudah tersedia komponen-komponen yang dibutuhkan terutama dana dan aktor utama. Sedangkan pada fase death valley terjadi kekosongan dana dan aktor serta faktor-faktor determinan terutama kebijakan sistem insentif.

Pada tahap riset dasar ide, ada aktor utama yang melakukan, seperti perguruan tinggi, lembaga litbang dan kelompok kreatif. Aktor pendukung juga tersedia yaitu pemerintah yang menyediakan sarana dan prasarana serta dana riset.  Tetapi bagi entitas usaha yang melakukan kegiatan riset dasar ide, maka fase death valley bisa meluas sampai fase riset dasar, karena fase tersebut membutuhkan sink cost atau biaya yangsulit diperhitungkan pengembaliannya. Hal ini tentu saja membutuhkan dana murah yang tidak tersedia di pasar finansial dan harus disediakan sendiri atau oleh pihak lain yang masih memiliki hubungan personal dengan pelaku. Sedangkan bagi institusi riset pemerintah, dana tersebut disediakan pemerintah. Pada tahap komersial, banyak industri yang bersedia mengadopsi produk inovasi, jika sudah teruji dan sudah ada kajian tekno-ekonomi yang menyatakan layak jika dilakukan proses bisnis. Pihak perbankan juga sudah tersedia untuk melakukan pembiayaan asalkan sudah ada track recordaktivitas usaha dalam waktu tertentu dan menghasilkan profit.

Permasalahannya adalah siapa aktor yang melakukan kegiatan pada fase antara seperti kajian tekno-ekonomi, membangun pilot plan dan melakukan trial production untuk menguji sistem produksi dan kekonsistenan produk, melakukan trial marketing untuk mendapat input dari pasar. Siapa yang mempromosikan produk inovasi, siapa yang memiliki kapasitas menghubungkan dengan partner industri, siapa yang mengelola dan melakukan transfer teknologi, lembaga keuangan yang mau membiayai pilot plan dan kajian tekno-ekonomi. Apakah ada faktor determinan yang kondusif. Pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak akan menemui jawaban. Jikapun ada, pertanyaannya adalah apakah aktor dapat berfungsi sebagaimana mestinya atau dana yang tersedia mencukupi dan dengan skema yang tepat, serta apakah faktor determinan cukup kondusif.

KEBIJAKAN SISTEM INSENTIF

Pertanyaan besar yang muncul adalah bagaimana menciptakan kebijakan sistem insentif yang tepat untuk menumbuhkan inovasi di Indonesia dan membuat inovasi memberi dampak terhadap pembangunan ekonomi Indonesia secara keseluruhan.

Banyak hal yang diperlukan untuk mengatasi permasalah pada pengembangan inovasi agar sampai pada tahap kegiatan ekonomi, baik fase riset dasar, fase antara(death valley), maupun fase komersialisasi.Masalah yang cukup penting adalah menumbuhkan dan memperkuat bridging institutiondan menciptakan lembaga keuangan yang sesuai.Bridging institution yang ditumbuhkan adalah yang memiliki kemampuan mengelola invensi/inovasi, melakukan promosi dan marketing untuk mencari partner industri atau entrepreneur yang tepat yang mampu melakukan kegiatan komersialisasi serta melakukan proses inkubasi terhadap start up companyyang didirikan entrepreneur baru. Selain bridging institution maka permasalahan pembiayaan juga penting.Lembaga keuangan yang sesuai seperti venture capital juga sangat diperlukan, karena sistem perbankan tidak akan sesuai mengingat perbakan bekerja berdasarkan pengalaman usahayang telah dilakukan dan hal tersebut tentu tidak akan dapat dipenuhi oleh industri baru berbasis inovasi. Oleh karena itu adanya perusahaan venture capital akan sangat penting. Dengan adanya venture capital maka resiko pengembangan inovasi yang ditanggung oleh industriakan dibagi ke lembaga venture capital. Lembaga Venture capital yang ada tentunya yang memiliki kapabilitas untuk mengidentifikasi inovasi yang memiliki potensi ekonomi, menilai resiko baik resiko teknis dan ekonomis serta melakukan valuasi terhdap nilai ekonomi suatu inovasi, sehingga inovasi yang dihasilkan juga akan mengalami evaluasi oleh pihak venture capital sebelum industri melakukan investasi untuk komersialisasi.

Pada tataran kebijakan, tentunya sistem perpajakan yang memihak kepada industri inovasi sangat penting, mengingat indusri atau entitas usaha yang akan mengadopsi inovasi akan terpapar resiko yang jauh lebih besar dibandingkan dengan kegiatan perdagangan atau manufaktur produk yang sudah mapan. Sebagai contoh dilakukan tax reduction, bagi industri atau entrepreneur yang melalukan riset atau mengembangkan  inovasi atau yang mengadopsi inovasi aktor lain. Kebijakan pengadaan barang danjasa pemerintah yang mengarus-utamakan penggunaan produk dalam negeri dapat menjadi demand pull yang mampu menggerakkan tumbuhnya proses inovasi dalam negeri. Kebijakan lain yang diperlukan adalah kebijakan insentif pembinaan kepada lembaga bridging institution, baik insentif yang berupa peningkatan kapasitas dan fasilitas lembaga, insentif dana pembinaan untuk dapat menciptakan dan menginkubasi start up companyserta  menumbuhkan/memfasiltasi  entrepreneur pemula berbasis inovasi.

Ada hal yang penting dalam konteks Indonesia dalam menumbuhkan inovasi, yaitu bahwa secara fakta Indonesia kaya akan modal budaya dan alam yang berupa folklore, indigenous knowledgedangenetic resources, seperti karya seni, alat musik tradisi, tanaman obat dll. Akan tetapi modal tersebut kurang dilakukan inovasi untuk menciptakan proses value creation. Modal tersebut hanya sekedar dilestarikan, yaitu diwujudkan sebagaimana nenek moyang menciptakan, sehingga kurang sesuai dengan kebutuhan pasar saat ini dan bernilai rendah, akibatnya kegiatan ekonomi terhadap produk tersebut tidak berjalan.Oleh karena itu perlu dilakukan inovasi terhadap produk budaya dan bahan alamtersebut agar terjadi value creation. Apabila inovasi dilakukan untuk menciptakan value creation terhadap produk budaya atau sumber daya alam, maka hal tersebut akan menjadi modal pembangunan ekonomi Indonesiayang  penting.

Oleh karena itu meskipun kegiatan inovasi yang memberi dampak pada pertumbuhan ekonomi nasional merupakan kegiatan yang sangat komplek, banyak stake holders yang terlibat dan membutuhkan proses yang panjang, hal tersebut merupakan sesuatu yang dapat dicapai oleh bangsa Indonesia.Syarat untuk hal tersebut adalah terjadi sinergi antar aktor dan ada faktor-faktor determinan yang kondusif dan yang tidak kalah penting adalah fungsi kepemimpinan pemerintah. Karena kalau dilihat pada tiga tahap pengembangan inovasi menjadi kegiatan komersial, pemerintah memiliki peran yang sangat besar, yaitu menetapkan arah dan kebijakan invensi/inovasi yang tepat dan kondusif, mengerahkan sumber daya yang dimiliki untuk memfasilitasi dan menstimulasi segenap komponen bangsa untuk bisa bersinergi dalam menumbuhkan dan mentrasfer invensi/inovasi menjadi kegiatan ekonomi dan membuat aturan main yang jelas antar komponen aktor dalam berinteraksi.(AR)

 

 

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s