Back To Basic

Sahabat, kita baru saja melewati dua buah momentum. Momentum spiritual yang pertama adalah kita baru saja menyelesaikan training di bulan Ramadhan selama 30 hari penuh. Kemudian yang momentum spiritual yang kedua adalah Idul Fitri. Sayang sekali kalau 2 momentum tersebut kita lewatkan begitu saja. Tetapi kalau kita perhatikan pada 2 momentum tersebut, ada satu fokus yang sama, satu titik yang sama. Titik tersebut adalah apa yang disebut dengan istilah, Back to basic atau kembali kepada fitrah. Seperti yang telah kita fahami, basic kita adalah sebagaimana sabda nabi Muhammad SAW. yang berbunyi, “kullu mauluudin yuuladu alal fitrah”Setiap bayi dilahirkan dalam keadaan fitrah. bersih dari segala dosa. jadi yang dimaksud dengan back to basic adalah back to fitrah. kembali seperti manusia yang baru saja dilahirkan

 

Nabi Muhammad SAW memberikan gambaran, orang yang berhasil dibulan Ramadhan tidak bisa diukur dari bulan Ramadhannya. Tetapi pada saat on the job training. Ramadhan itu merupakan sebuah bulan training. Sehingga pertarungan sebenarnya bukanlah pada bulan Ramadhan itu, melainkan sebenarnya adalah 11 bulan diluar Ramadhan. Ini menjadi indikator suksesnya training dibulan Ramadhan.

 

Nabi Muhammad memberikan ciri-ciri orang yang berhasil dalam melaksanakan ibadah puasa, ciri-ciri berhasil melewati training, dan ciri-ciri menjadi alumni Ramadhan yang sukses. Orang yang berhasil di bulan Ramadhan adalah statusnya sama seperti bayi yang baru dilahirkan. Ini adalah sebuah metafora dan analogi yang luar biasa. Bayi tidak punya dosa, bayi tidak punya kesalahan, bayi belum diberikan hukuman dosa. Alangkah bahagianya apabila kita kembali seperti bayi yang baru dilahirkan.

 

Kenapa orang yang berhasil melewati Ramadhan seperti bayi yang baru lahir? Karena bayi memiliki sifat-sifat yang luar biasa indah. Berikut adalah sebagian dari sifat-sifat bayi tersebut.

 

1. Persisten

Persisten artinya tahan banting, tahan uji, tidak pernah menyerah, pantang mundur. Ketika mengalami kegagalan, ia akan bangkit kembali. Bayi yang belajar merangkak, dia akan mengalami jatuh, dia akan menangis. Tetapi setelah menangis ia akan bangkit lagi dan mencoba lagi. Dia tidak akan pernah mengalami rasa bosan untuk belajar merangkak, belajar untuk berdiri, belajar untuk lari. Semua dilakukan dengan tahan banting, dia coba, dia jatuh, dia nangis dan dia coba lagi.

 

Maka orang yang berhasil dibulan Ramadhan adalah yang semakin persisten, tahan uji dan tahan banting. Ingat kembali, The real winner, is not just win the champitition, but the real winner is everyone who can stand up after failed. Pemenang sejati bukanlah orang yang memenangkan pertandingan, tetapi pemenang sejati adalah orang yang bangun setelah mengalami kegagalan. Jadi sebenarnya kualitas hidup seorang manusia diukur dari nilai perjuangnya. Semakin tinggi nilai perjuangannya semakin berkualitas hidupnya. Maka dalam persisten tidak ada kata malas, persimis, putus asa. Apalagi stres, depresi, frustasi bahkan bunuh diri. Jika ada bayi yang malas, maka mungkin sampai saat ini dia tidak akan pernah dapat berjalan.

 

Orang yang memiliki persisten tinggi, adalah orang yang dekat dengan dzat yang maha. Maha Perkasa, Maha Kaya, Maha dan Maha yang lain. Dialah Allah swt. Dengan dekat kepadanya akan merasa nyaman, merasa ada yang dibelakang dia yang memberikan power luar biasa. Yang mendorong kita terus maju dan mencoba. Persisten adalah modal untuk membangun masa depan, modal untuk membangun anak-anak berkualitas, modal untuk membangun pendidikan. Dan ini adalah modal untuk membangun karir

 

2. Antisipatif.

Orang yang antisipatif sebelum kegagalan terjadi, sudah menentukan langkah-langkah pencegahan atau langkah-langkah alternatif. Bayi selalu banyak melihat kedepan, sedikit sekali melihat ke belakang. Coba hitung lebih banyak mana bayi melihat kedepan atau menengok kebelakang. Ini memberikan inspirasi kepada kita untuk melihat masa depan. see the bright future.

 

Sahabat, kalau kita sering melihat ke belakang maka akan ada memiliki semacam traumatic syndrome. Sehingga menjadi pesimis. tapi bayi selalu melihat kedepan. Kalau belajar merangkak dia sering menengok ke belakang maka akan sering menabrak tembok, sering kepentok meja. Uraian ini bukan berarti untuk melupakan masa lalu, tetapi jangan terlalu menitik beratkan perhatian dan fokus kita pada kegagalan pada masa lalu.

 

Pernah bayi berumur sekitar 1,5 tahun yang sedang duduk di sebuah tangga. Karena kurang hati-hati tiba-tiba dia jatuh. Kemudian menangis, tetapi sang ayah kemudian meletakkan bayi tersebut di tangga yang sama. Dia memperhatikan bagaimana bayi itu bertindak. Ketika diletakkan pada tangga yang sama, dia duduk dan berusaha berjalan dengan lebih hati-hati. Ini memberikan pelajaran kepada kita untuk kita tidak mengulang kesalahan yang sama. Sabda nabi, seorang muslim tidak boleh jatuh pada lobang yang sama. Kalau kita jatuh pada lubang yang sama, berarti kita tidak tidak mengambil pelajaran atas kejadian sebelumnya.

 

3. Sincerety (ketulusan)

Bayi itu tulus, ketika senyum ya tulus, begitu pula sedih dan lain-lain. Ketulusan bayi itu tidak lahir dari gerakan fisik semata,bukan dari otak, bukan dari lidah saja. Tetapi dari ketulusan hati. Kenapa hati? Kata Imam Ghazali hati itu adalah the central of decision, the central of wisdom. Pusatnya keputusan, pusatnya kebijaksanaan. Jadi orang yang sukses training Ramadhan, ia memiliki ketulusan yang sejati. Mengatakan sesuai dengan isi hatinya.

 

4. Honesty (kejujuran)

Pernahkah kita melihat bayi yang berbohong? Dia akan berbicara dan berekspresi apa adanya. Berarti orang yang berhasil dalam training di bulan Ramadhan adalah apa yang ada dihati. Menggambarkan ekspresi sesungguhnya.

 

Tapi dalam kehidupan ini, banyak sekali kita jumpai orang-orang yang antara pengucapan berbeda dengan yang ada di hati. Kita mengenal istilah kemunafikan, hipokret,split of personality, double standart, ambivalency. Dimana ketika bertemu dan berbicara dengan A, akan berbeda dengan ketika berbicara dengan B. Maka bagi yang sukses dalam Ramadhan, kejujuran akan menjadi pakaianya.

 

Sahabat, The real success is not depends of position, not your talent. But it depend on the attitude, sukses bukan tergantung dari posisi anda, jabatan anda, bukan dari bakat anda, tetapi tergantung dari sikap anda. Semoga dengan selesainya Ramadhan, kita memiliki semangat baru, sikap yang baru yang lebih baik, rencana-rencana baru, dan tentu saja membangun diri anda yang baru. Dengan format yang sama tetapi dengan tampilan yang berbeda.

 

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s